Tidaklah kamu menghayal dari perkataan-mu. dinginya malam tidak akan melupakan ku yang terlansir dan terlampau walau hanya sebaimana ku memeluk sebagian tubuh. jangan pernah untuk mengingat waktu ingatlah dunia ini yang berputar. dunia tidak akan tahu dimana waktu! tuhan akan tahu sisi mana yang harus ku penuhi untuk menyimbangkan sisi lainya bukan dimana detik demi detik yang terus berjalan, detik yang berjalan tidak akan memenuhi semua harapan karena harapan terlahir dari dunia yang tirani dan beralur keji. jangan memungkinkan jalanya yang telah terlewati hanya untuk derita tanpa rasa, pikirkan dari semua hal yang telah terjadi bukan untuk di ingat! hanya menjadi angin kosong. semua perkataan dengan bisunya akan terbakar tanpa abu. namun membekas bukan karena panas!. diamlah menatap kepalan tangan lihat kamu seperti apa setelah selesai bukan untuk melihat air yang mengalir. air mengalir di atas karang dan bebatuan bukan dalam genggaman yang bisa rampas dan hempaskan.! terbiasa mungkin alasan yang sebenarnya namun sebenarnya karena terbiasa melihat dan hempaskanya, tidak memikirkan ulasan diri hanya saja menolak dengan apa yang adanya dalam pikiran-nya, sesudah hanya bisa mengalirkan air mata cara sengaja didalam pohon yang meneteskan air hujan ke tanah untuk bertahan.
jangan memulai sendiri langit-langit tahu langkah hitam akan ada jejaknya. dan putih akan menjadi putih selalu tidak akan terlihat jangan harapkan seperti itu selalu ingat harapan terlahir dari dunia tirani. terlampau bodoh sampai terseret ke dalam sebuah kenistaan tanpa bertahan dengan satu harapan kosong, dimulai disini dengan awal yang tak pernah terjadi disisi lain menghadapi sebuah guraman layaknya burung yang berceloteh temui titik yang tak berujung hanya mendapat kiasan namun bukan pandangan dengan kata-kata hanya terlahir dengan kebinasaan dalam suatu genggaman. satu hal yang menjadi kiasan jangan pernah mendengar jika bibir-mu bicara, jangan pernah melihat jika telingga mendengar karena semua itu bibit dari harapan. entah dimana akan berakhir, hal ini di gabungkan, bermain dalam rautan wajah dan bibir merah mawar menawan dengan mata pisau menikam dengan perlahan dalam. Kita tahu ini takan berujung hanya aja langit-langit dan isi dunia belum menunjukan dimana burung itu akan pergi. setelah semua selesai kau berikan segala harapan tetapi aku tidak sampai titik itu saja, ku melampaui segala harapan dimana kamu menilai setiap harapan yg datang dapat meleburkan, ingat! jangan melihat jika kamu mendengar. ku belajar dari sebuah separuh sayap burung yang telah jatuh menggerakan bersama angin mengarungi kehidupan di setiap kata-kataku terucap. raihlah emosi lihat ia betapa menyadarkan dirimu merangkul dengan akan penuh keistimewaan hanya saja disaat itu aku mendengar namun ku tidak bicara. tak satu kata ku ucapkan walau kamu telah mendengarkan namun bibir-mu bicara yang melahirkan sebuah harapan aku tahu dimana ilusi yang kamu ciptakan karena ku telah masuk kedalamnya. terdengar hanya saja ku melihat ilusi seperti rayuan namun tidak mengajak ku bertaruh dengan hati semua tersayat akan bibir-mu yang bicara. ku penuhi rahasia di balik abu-abu yang berwarna itu karena kamu melihat dan mendengar dan menjadi kiasan tanpa jawaban. kamu sadari itu dan terus berpura-pura tanpa apa yang terjadi. atau entah tidak tahu apa yang terjadi dan terus mengarungi dan menyelam ke dalam suatu penghianatan terencana karena ini bukan bibir yang berceloteh karena ini adalah harapan yang penuh sebuah ke-pecundangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar