Deraian hujan menerka debu-debu berujuk menjadi suci dan bias akan pandangan
yang berlabuh pada setiap sisi untuk menjalin dengan kata-kata yang bermakna
tabu. memilih aksara untuk dipertanyakan melalui emosi dan ilusi
memulai menghadapi pernyataan yang dipilukan sebuah aksara mendiami pikiran
berhasratkan emosi dalam keluk dunia asmara terbentang cahaya hitam. memilukan
seisi jiwa dengan penuh harapan ber-angan memilah setiap rasa yang ada, kini
bahagia-pun membiarkan segala suka-cita yang pernah ada. menerka pilihan
yang sudah ada dan waktu yang menyatukan dalam kemunafikan.
Kelam akan tumbuh
disaat berdiri di depan cahaya bercengkrama sekian berhulu sesampai lampaui
fana. Malam turun bersama pagi dalam pelukan melihat bintang yang redup depan
mata tenggelam dengan hujan yang menyapa terus menghujat seakan matahari tidak
akan terbentang. Cacian menghampiri penuh dosa dalam sukma bernilai keraguan
diam-diam membenci asmara dengan cinta hitam. Pastikan setiap pelukan berbicara
meski hanya malam tiba dengan jemari yang memanja menyudahi masa yang ada tanpa
belas kasih yang mereda hingga pergi menuju hampa. Asmara, merelakan sebuah yang
menakutkan tanpa sudut pandang yang mendekam dalam pikiran terbesit akan sesuatu
keinginan terlebih dahulu yang dibiarkan melepas dalam awan bersama langit
kemerahan meskipun terlihat pelangi kesamaran yang terlintas sesuatu penuh
pelukan. Dunia tanpa suara berbisik dengan perihnya rasa setiap jalan diarungi bersama gelapnya hujan tanpa mengahapus jejak sedemikian berlabuh, perihnya hati mendiami sukma membeku dalam jemari yang mengepal, menahan tirani seakan dunia akan mengasihi bersama langit gelap, deru kaki melangkah melewati dunia yang pilu kita sesaat berjalan penuh irama bersama dengan hikayat yang belum tentu sama terus berangan seperti merpati dalam genggaman.
Jalan terus berada didepan tidak terlihat benar atau salah hanya akan mengarungi setiap sisi desusnya asmara hitam bersama-sama melambai pada bunga-bunga yang berjatuhan, berjalan mengiringi senja tanpa kata dengan mengukir duka tanpa air mata
Tidak ada komentar:
Posting Komentar