4 November 2015

Cangkir Berjubah Merah

Kemarin,kini,lalu esok dan lusa berdiri di tengah,kanan kiri, depan belakang, lalu atas, bawah mendiami dengan geraman yang acuh, hujan yang menghujani, menilai dengan perbandingan yang sama apa  yang kau cari ? Menanam keimbasan segala harap yang telah jatuh pada burung bergigi singa .
menjalin dengan para mangsa berteman dengan seribu ular, berada pada titik keabaian mendiam tanpa menoleh, melihat tanpa bicara. lihat betapa keji-ah itu. galang berlambu menjadi sulit melewati curamnya gunung.lembah yang bergemuruh berbisik menjadi lawan tangguh, kemungkinan satu kata akan keajaiban rasa harapan takan pernah putus bermusim dengan sendirinya.
semua berjalan tanpa sengaja tanpa adanya sebuih yang akan datang dengan kulit tanganya yang halus berubah memerah tanpa sebab. aku pandangi sebagian diri kalian dan kubuang jauh sebagian diri kalian, aku takan melangkah setiap dari setiap titik jalan disini burung berkicau halus disana harimau bergemuruh menahan pandangan berlari dengan angin. sejalanya berubah bercabang kini kau kembali entah dimana letak diri ini bergariskan cahaya kesunyian mengendap dibawah bebatuan yang berair takan mudah dimengerti sebab lain hal menakuti dibalik bayang menampakan dalam kederitaan merasa terusik dengan awal yang mengusik menjadi campur berhidangan sebuah amarah. kawan lawan entah menyebut seperti apa disini didunia ini semua sama terkendali dengan emosi. di mulai saat cangkir yang bertangkai ingin mencapai jalani hidup bersama tersedak dalam keadaan yang sulit bagaimana entah kapan untuk bersatu. terjadi atau tidak seutuhnya hanyalah prinsip, prinsip awal yang akan di jalankan kamu mengambil tindakan yang berjubah tanpa merah.
kau panggil aku, aku terduga menahan kemerahan dalam kamu hanya hayalan,  aku? se-tangkai debu yang terbuang selalu mencari entah untuk apa sesampai disini tanpa ada jalan. kemudian terjadi saat kini berada dalam derasnya hujan tiada payung yang menahan dan berteduh dengan gelapnya bulan berbaring di hadapan bintang untuk berkata seutuhnya hanyalah kau, dia ? sebagian besar saat kini ,lusa hanya aku,kau biarlah sesampai matahari terbit dan terbenam untuk menahan. seberapa malam untuk malam semua di depan hari yang cerah dan membelakangi keadaan kemudian hari yang akan berjalan berirama di lain sisi kiri ataupun kanan. esok akan datang dimulai kita berjalan atau diam disini saja dimulai prinsip yang akan terbicara atau membisu seakan tanah berubah menjadi air dalam kesunyianya. akhir memang sulit di ingat dan awal merupakan sakit. sebekas dan selekas nya hanya angan, angan dimana kamu memanja menoleh dengan mata termalu-malu sekian saja berjalan melampaui kisah kamu dan aku seakan abadi. ter-akhir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini