Sekata belasan kata dan seribu kata, dalam terniang melihat merekahnya bunga terpojok dengan kenangan yang tersisi, bukalah, bukalah setiap kedipan yang berlinang dan ketahui matahari akan melihat dalam senja terurai dengan tawa, kita adalah esok dan kemarin hanyalah hari, hari esok yang fana, mereka ratusan bunga, dalam hening merengkuh dengan nistaan terciptanya delusi akan hausnya percintaan, menarik malam membakar kedustaan, celoteh-celoteh embun rumput membisik rantas, seperti cendala dengan suaka tuhan, mereka adalah lusa dan lampau bukanlah esok, lusa yang menunggu akan bulan tertidur. kata kita munajat yang hanya berasal dari murka menjalin dengan kegoresan nestapa, seketika terluka akan hinanya warna-warni dunia yang melewati duka, ini bukanlah permulaan dan ini bukanlah akhir, ini hanyalah permulaan yang berakhir saat bulan akan tertidur di hari yang fana.
Ketahuilah senja bukanlah air mata, hanya perginya aksara kepada kata, dan malam itu buta hingga hanya tersisa sukma di dalam cemar sesampai terlupa. meninggalkan seisi dunia. berkata tanpa aksara hanya menutup mata dan telinga sehingga malam menjadi lupa tentang dirinya yang mempesona.
Tersirat kita adalah luka, luka akanya indah sesampainya hari tua, hingga berujung dengan pupusnya dilema membuat suaka dengan tabir penuh asmara, berjanjilah, berjanji akan setia pada tangan yang penuh dosa menghampiri perihnya derita cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar